Pagi itu, para perampok yang masih selamat di perkampungan, bersama para penduduk yang bersembunyi, berlutut dengan tubuh gemetar. Pemandangan di langit dan suara ledakan di hadapan mereka adalah sesuatu yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya—mengerikan sekaligus menakjubkan.

Lynx berdiri di depan kawah yang terbentuk dari bekas benturan energi pedangnya. Kawah itu memanjang beberapa ratus meter, seolah-olah menyapu bersih segalanya. Pohon-pohon, tanaman, bahkan para perampok yang berada di sekitarnya lenyap tanpa bekas.

Mata Lynx terbelalak, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Apa yang sudah aku lakukan? Aku tidak pernah menduga jika kekuatan yang kugunakan bisa memberikan dampak sebesar ini,” gumamnya dalam hati, dipenuhi rasa bersalah.

Bayangan kejadian sebelumnya muncul di benaknya. Dia teringat saat menghadapi Kronar, yang berdiri di antara ratusan anak buahnya. Amarah Lynx meluap saat melihat penderitaan penduduk yang tak berdaya di tangan perampok itu, teringat luka di tubuh jelita dan kematian Alana, tunangan Arkha. Dengan penuh tekad, dia berniat mengakhiri segalanya dalam satu serangan. Tapi serangannya ternyata jauh lebih kuat daripada yang dia perkirakan, meninggalkan kehancuran total. Tidak ada satu pun dari mereka yang selamat.

"Apa yang terjadi?"

"Kenapa ini bisa terjadi?"

"Ke mana Kronar dan yang lainnya?"

Suara-suara bingung dan takut mulai terdengar. Sekelompok perampok lain yang datang dari kampung karena melihat ledakan besar itu berdiri kaku, memandang kehancuran di depan mata mereka. Mereka berharap melihat Kronar di sana, tetapi kenyataannya justru membuat mereka semakin gentar. Mereka saling berbisik, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi, sementara mata mereka tak lepas dari sosok Lynx yang berdiri diam di tengah kehancuran itu.

Lynx memandang para perampok yang tersisa, amarahnya mereda, digantikan rasa berat karena menyadari dampak tindakannya. Niat untuk memusnahkan mereka sepenuhnya lenyap, tergantikan oleh rasa penyesalan atas ratusan nyawa yang telah terenggut dalam sekejap.

“Kronar telah binasa,” katanya dengan suara pelan, tetapi setiap kata terasa bagaikan gemuruh di telinga para perampok yang ketakutan. “Jika kalian menghargai nyawa kalian, menyerahlah dan buang senjata kalian.”

Para perampok saling pandang, ketakutan mencengkeram mereka. "Kami menyerah... kami menyerah..." teriak mereka serempak, membuang senjata mereka ke tanah.

Lynx memperhatikan mereka dengan tatapan tajam, mengukur jumlah yang tersisa—hanya puluhan. “Pergilah,” ujarnya dingin. “Jika aku melihat kalian menyakiti penduduk lagi, nasib kalian akan sama seperti mereka yang sudah kuhancurkan.”

Tak menunggu perintah lebih lanjut, para perampok segera berbalik dan berlari secepat mungkin, menjauh dari tempat itu. Ketakutan mereka terhadap Lynx terlalu besar untuk dipertanyakan. Sejak hari itu, nama Lynx menjadi momok yang ditakuti, baik oleh perampok maupun penduduk di pulau itu.

Lynx menghela napas panjang, menatap pedangnya yang berkilau suram di bawah sinar matahari pagi. “Kekuatan ini… sangat besar. Tapi... masih belum cukup untuk menghadapi makhluk itu,” batinnya penuh kecemasan.

Bayangan ancaman yang lebih besar membayang di benaknya—sesosok makhluk menyerupai naga dari legenda. Tubuhnya besar, seolah menguasai langit dan bumi, makhluk yang kekuatannya tak terbayangkan. Lynx mengepalkan tangannya. “Melawan leluhur Monrest masih ada kemungkinan menang,” pikirnya. “Tapi melawan makhluk itu... aku sangat tidak yakin bisa menghadapinya.”

Dia menatap ke kejauhan, khawatir bahwa serangan besar yang dilakukannya tadi mungkin telah membangunkan makhluk tersebut dari tidur panjangnya. Angin yang bertiup lembut terasa dingin, membawa pertanda ancaman besar yang belum berakhir.

Lynx kemudian menyimpan kembali pedangnya ke dalam cincin penyimpanan. Dengan kemampuan tembus pandangnya, dia memeriksa keadaan sekitar untuk memastikan tidak ada perampok yang tersisa.

"Ternyata memang mereka benar-benar musnah tanpa tersisa. Jika tidak terdesak, aku harus lebih berhati-hati menggunakan kekuatanku," pikir Lynx. "Sebaiknya aku kembali sekarang untuk menemui mereka."

Lynx berbalik dan melesat menuju tempat para penduduk yang masih bersembunyi dalam ketakutan.

"Apa yang telah terjadi?" tanya salah seorang penduduk begitu melihat Lynx datang. "Kami melihat langit seperti mengamuk dan sesuatu yang bercahaya besar muncul!"

Menghadapi berbagai pertanyaan yang datang bertubi-tubi, Lynx hanya tersenyum tipis. "Kalian sudah aman sekarang. Kronar tidak akan menyakiti kalian lagi."

"Apakah kamu yakin mereka tidak akan menangkap kami lagi?" seorang penduduk tua memberanikan diri bertanya dengan nada khawatir.

Lynx mengangguk mantap. "Aku sudah menghancurkan mereka. Mereka tidak akan pernah bisa menangkap kalian lagi."

Ekspresi para penduduk beragam. Beberapa tampak gembira dan percaya pada Lynx, sementara yang lain masih meragukan ucapannya.

"Tunggu," sela seorang penduduk dengan ragu. "Apakah kalian benar-benar mempercayai ceritanya? Dia baru saja pergi dari sini dan sudah kembali. Mungkin saja dia belum benar-benar mencapai tempat itu, atau dia hanya bersembunyi."

Penduduk lain saling berpandangan, kebingungan antara ingin mempercayai Lynx atau mempertimbangkan keraguan yang diungkapkan.

Tiba-tiba, seorang pemuda maju ke depan dan berkata tegas, "Kalian boleh tidak percaya, tapi ingat, dia yang telah menyelamatkan kita. Dia yang membebaskan kita dari tawanan Kronar. Itu saja sudah cukup untuk kita berterima kasih kepadanya."

Penduduk yang mendengar perkataan pemuda itu mulai mengangguk setuju, rasa ragu mereka perlahan menghilang.

Lynx memandang pemuda itu dengan penuh perhatian. "Dia bijaksana, dan penduduk mau mendengarkannya. Aku bisa memintanya untuk memimpin mereka semua jika berkenan bergabung," pikir Lynx.

"Kalian sekarang sudah bebas dari para perampok," kata Lynx dengan nada serius, "tetapi jangan lupa, kalian masih harus menghindari suku Monrest." Dia menatap mereka satu per satu. "Aku tahu selama ini kalian hidup terpisah dari suku-suku lainnya. Namun, aku harap setelah ini kalian bisa bersatu."

"Bersatu?" seorang penduduk bertanya dengan nada putus asa. "Kami bahkan tidak tahu di mana suku-suku lainnya berada, seperti Sinto, Uksa, dan yang lainnya."

"Benar," tambah yang lain. "Sejak para perampok semakin banyak menangkap penduduk, kami mencoba mencari suku lain untuk berlindung. Tapi mereka sudah berpindah tempat tanpa jejak."

"Kelima suku besar sudah bergabung," jelas Lynx. "Suku Sinto, Uksa, Raksa, Yaksa, dan Yona telah bersatu menjadi satu suku bernama Surya. Mereka sekarang berada di barat pulau ini."

"Barat pulau? Tidak mungkin mereka berani tinggal di sana," kata seorang penduduk, terkejut.

"Aku tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang," kata Lynx. "Tetapi jika kalian pergi ke arah barat, kalian akan bertemu para penjaga dari suku Surya. Katakan pada mereka bahwa aku, Lynx, kepala suku mereka, yang meminta kalian datang."

"Kamu kepala suku?" seorang wanita tua bertanya dengan nada penasaran. "Kenapa seorang kepala suku justru meninggalkan sukunya hingga ke tempat ini?"

"Pertanyaan kalian akan terjawab ketika kalian tiba di barat," jawab Lynx singkat. Dia kemudian memanggil pemuda yang sebelumnya menarik perhatiannya. "Siapa namamu? Apa kamu bersedia pergi ke barat pulau ini?"

"Aku Dio," jawab pemuda itu singkat. "Aku bersedia."

Lynx menatap kembali ke arah para penduduk. "Aku akan meminta kalian yang bersedia pergi ke barat untuk mengikuti Dio."

Lynx mengamati reaksi para penduduk yang mendengar penjelasannya. Beberapa mulai menunjukkan tanda-tanda percaya, sementara yang lain masih ragu. Dia tahu bahwa meyakinkan mereka sepenuhnya bukan tugas yang mudah, tetapi menyatukan mereka dengan Suku Surya adalah satu-satunya cara agar mereka benar-benar selamat dari ancaman di pulau ini.

"Baiklah," Lynx berkata dengan nada tegas, mengarahkan pandangannya pada Dio. "Dio, pastikan perjalanan kalian ke barat dilakukan dengan hati-hati. Ada banyak bahaya di jalan, tetapi aku yakin kalian akan aman jika tetap bersama."

Dio mengangguk. "Aku akan memastikan semua yang mengikuti tiba di tempat tujuan dengan selamat."

Lynx kembali berbicara kepada penduduk, "Ini adalah kesempatan kalian untuk memulai kehidupan baru. Di barat, bersama Suku Surya, kalian tidak hanya akan aman tetapi juga memiliki tempat untuk membangun kembali segalanya. Aku tahu tidak mudah untuk mempercayainya, tetapi ini adalah keputusan terbaik."

Seorang wanita tua yang sebelumnya mempertanyakan Lynx akhirnya berkata dengan nada lembut, "Jika yang kau katakan benar, kami tidak punya pilihan selain mengikuti arahanmu. Tapi kami berharap kau tidak salah, Nak."

